Monotonitas dan strain: kenapa minggu yang rata belum tentu aman

Dua atlet bisa menjalani total beban mingguan yang sama, tetapi sebaran bebannya berbeda. Monotonitas dan strain menangkap perbedaan itu. Riset menunjukkan kaitannya dengan penyakit dan cedera, dengan hasil yang tidak selalu searah.

Tim PeakPlan4 menit baca
Daftar isi
  1. Cara menghitungnya
  2. Temuan awal: penyakit ikut naik
  3. Studi pada pesepak bola profesional
  4. Pola sepanjang musim
  5. Batas yang perlu diingat
  6. Cara memakainya
  7. Sumber

Bayangkan dua atlet dengan total beban satu minggu yang hampir sama. Atlet pertama berlatih dengan beban sedang setiap hari. Atlet kedua bergantian antara hari sangat berat dan hari sangat ringan. Total bebannya sama, tetapi tubuh keduanya menerima minggu itu dengan cara berbeda.

Carl Foster meneliti perbedaan ini pada akhir 1990-an dan memberinya dua ukuran: monotonitas dan strain. Artikel ini menjelaskan cara menghitungnya dan apa yang ditemukan riset sesudahnya, termasuk satu hasil yang bertentangan dengan dugaan awal.

Cara menghitungnya

Foster mendefinisikan monotonitas sebagai rata-rata beban harian dibagi simpangan bakunya. Strain adalah total beban dikali monotonitas [1]. Beban harian biasanya berasal dari session RPE, yaitu skor sesi dikali durasi.

Contoh hitungan (angka rekaan untuk ilustrasi, dengan simpangan baku populasi). Atlet A berlatih dengan beban harian 500, 500, 450, 500, 450, 500, dan 0 pada hari istirahat. Totalnya 2.900 AU, monotonitasnya 2,43, strain sekitar 7.045. Atlet B berlatih dengan beban 800, 200, 600, 150, 700, 300, dan 0. Totalnya 2.750 AU, monotonitasnya 1,39, strain sekitar 3.812. Atlet A mengerjakan sedikit lebih banyak, dengan pola yang jauh lebih seragam, sehingga strain-nya hampir dua kali lipat.

Temuan awal: penyakit ikut naik

Foster mengikuti 25 atlet berpengalaman yang mencatat latihan dengan metode sRPE dikali durasi, lalu mencocokkannya dengan penyakit ringan. Ia menghitung beban (rata-rata bergulir 6 minggu), monotonitas, dan strain. Sebagian besar penyakit bisa dijelaskan ketika atlet melewati ambang individual tertentu, terutama untuk strain. Kesimpulannya, pemantauan sederhana atas karakteristik latihan dapat membantu atlet mencapai tujuan latihannya sambil menekan hasil yang tidak diinginkan [1].

Perhatikan kata ambang individual. Ambangnya berbeda untuk setiap atlet, jadi tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang.

Studi pada pesepak bola profesional

Delecroix dan rekan mengikuti 130 pemain sepak bola elite dari lima klub yang bermain di kompetisi Eropa selama satu musim. Beban dihitung dengan sRPE, monotonitas dan strain dihitung dengan jendela bergulir 1 sampai 4 minggu, dan cedera non-kontak dicatat.

Hasilnya tidak searah. Strain 4 minggu berkaitan dengan cedera: risiko relatif naik 1,50 (IK 95% 1,14 sampai 1,97) seiring naiknya strain. Monotonitas 4 minggu menunjukkan arah sebaliknya: risiko relatif turun 0,72 (IK 95% 0,58 sampai 0,90) seiring naiknya monotonitas [2]. Penulis menyimpulkan keduanya berkaitan dengan cedera dan perlu dipantau. Abstrak studi tidak menjelaskan arah yang berlawanan itu.

Salah satu kemungkinan, yang saya tawarkan sebagai dugaan dan bukan temuan studi, adalah bahwa dalam kalender kompetisi yang padat, monotonitas tinggi berarti beban yang stabil, sedangkan cedera lebih sering menyertai pola yang bergejolak. Dugaan ini sejalan dengan gagasan bahwa lonjakan mendadak lebih berbahaya daripada beban tinggi yang stabil [5], tetapi studi Delecroix tidak menguji hal itu.

Pola sepanjang musim

Nobari dan rekan memantau 29 pemain sepak bola elite U-16 setiap hari selama 20 minggu. Beban akut, beban kronis, dan strain mingguan tertinggi muncul di pertengahan musim dan terendah di awal musim. Kelelahan, stres, dan nyeri otot yang menumpuk paling tinggi di akhir musim. Indikator wellness dari Hooper Index berkorelasi sedang sampai besar dengan beban akut, monotonitas, dan strain (r = 0,46 sampai 0,67), dan Hooper Index menjadi prediktor terbaik untuk beban akut (R² = 0,45) [3].

Artinya, angka strain dan skor wellness harian bergerak bersama. Kalau strain naik sementara skor tidur atau kelelahan memburuk, dua sumber data itu memberi sinyal yang sama.

Batas yang perlu diingat

Tinjauan sistematis Drew dan rekan menemukan bukti moderat bahwa beban latihan berkaitan dengan cedera dan penyakit, tetapi sebagian besar penelitian yang mereka tinjau berasal dari rugbi, kriket, dan sepak bola, dan kualitas metodologinya bervariasi [4]. Gabbett menambahkan bahwa atlet yang terbiasa dengan beban tinggi justru punya cedera lebih sedikit, dan yang berbahaya adalah program yang tidak tepat serta kenaikan beban yang cepat [5]. Beban tinggi yang dibangun bertahap tidak otomatis berbahaya.

Semua studi di atas bersifat observasional. Kaitan statistik tidak membuktikan bahwa mengubah monotonitas akan mengubah kejadian cedera.

Cara memakainya

Berikut saran praktis berdasarkan literatur di atas. Tidak ada studi yang merumuskannya sebagai protokol baku.

Hitung monotonitas dan strain per minggu dari data sRPE yang sudah Anda kumpulkan. Bandingkan setiap atlet dengan riwayatnya sendiri, mengingat ambang yang ditemukan Foster bersifat individual. Kalau strain naik, periksa dulu apakah kenaikan itu memang direncanakan. Variasikan hari berat dan ringan dalam satu minggu, terutama pada blok latihan yang panjang, seperti yang dibahas di artikel periodisasi. Terakhir, cocokkan angkanya dengan skor readiness harian sebelum mengubah program.

Sumber

  1. Foster, C. (1998). Monitoring training in athletes with reference to overtraining syndrome. Medicine and Science in Sports and Exercise. Tautan
  2. Delecroix, B., dkk. (2018). Workload monotony, strain and non-contact injury incidence in professional football players. Science and Medicine in Football. Tautan
  3. Nobari, H., dkk. (2020). Description of acute and chronic load, training monotony and strain over a season and its relationships with well-being status: a study in elite under-16 soccer players. Physiology & Behavior. Tautan
  4. Drew, M., dkk. (2016). The Relationship Between Training Load and Injury, Illness and Soreness: A Systematic and Literature Review. Sports Medicine. Tautan
  5. Gabbett, T. (2016). The training-injury prevention paradox: should athletes be training smarter and harder? British Journal of Sports Medicine. Tautan