Periodisasi latihan: apa kata riset tentang efektivitasnya

Periodisasi mengatur beban latihan dalam fase yang terencana. Meta-analisis menunjukkan kekuatan maksimal naik lebih besar, tetapi belum ada satu model yang unggul untuk semua cabang olahraga.

Tim PeakPlan5 menit baca
Daftar isi
  1. Tiga tingkat rencana
  2. Latihan terperiodisasi vs tanpa periodisasi
  3. Yang dilakukan atlet juara
  4. Belum ada satu model yang unggul
  5. Taper sebelum kompetisi
  6. Apa artinya untuk rencana Anda
  7. Sumber

Periodisasi adalah cara menyusun latihan ke dalam fase yang berurutan dan siklus waktu, supaya atlet punya peluang lebih besar mencapai target performa tertentu sambil menjaga risiko overtraining tetap kecil [1]. Hampir semua pelatih sudah memakai versi praktisnya: musim dipecah menjadi periode, dan tiap periode punya satu tujuan.

Pertanyaan yang jarang dijawab dengan angka adalah apakah kerangka itu benar-benar membuat atlet lebih baik. Artikel ini merangkum apa yang ditemukan meta-analisis dan tinjauan sistematis, termasuk bagian yang belum terjawab.

Tiga tingkat rencana

Rencana periodisasi bekerja di tiga skala. Makrosiklus mencakup seluruh musim atau tahun, dari persiapan sampai kompetisi dan transisi. Mesosiklus adalah blok beberapa minggu dengan satu fokus, misalnya membangun kapasitas aerobik. Mikrosiklus adalah satu minggu: urutan sesi, hari berat, dan hari pulih.

Latihan terperiodisasi vs tanpa periodisasi

Meta-analisis Williams dan rekan menggabungkan 81 efek dari 18 studi latihan beban yang terbit antara 1988 dan 2015. Peningkatan 1RM lebih besar pada program terperiodisasi dibanding yang tidak (ES 0,43; CI 95% 0,27 sampai 0,58) [1]. Penulisnya menyimpulkan bahwa variasi rangsangan latihan tampak penting untuk menaikkan kekuatan maksimal.

Meta-analisis yang lebih baru menyamakan volume latihan di kedua kelompok, sehingga perbedaan tidak bisa dijelaskan oleh jumlah kerja. Dari 35 studi, keunggulan periodisasi untuk 1RM tetap muncul, tetapi lebih kecil (ES 0,31; CI 95% 0,04 sampai 0,57). Ukuran otot tidak berbeda antara kelompok terperiodisasi dan tidak (ES 0,13; CI 95% -0,10 sampai 0,36) [2]. Penulisnya menduga efek pada kekuatan lebih terkait adaptasi saraf yang menyertai latihan beban daripada perubahan ukuran otot.

Dua meta-analisis itu memberi gambaran yang konsisten. Periodisasi membantu kekuatan maksimal dengan efek kecil sampai sedang, dan belum terbukti membantu hipertrofi bila volume sama.

Yang dilakukan atlet juara

Tønnessen dan rekan meminta 11 atlet ski lintas alam dan biatlon peraih medali emas Olimpiade atau Kejuaraan Dunia melaporkan satu tahun latihan harian menjelang prestasi terbaik mereka. Atlet-atlet itu berlatih sekitar 800 jam per tahun dalam sekitar 500 sesi. Sebanyak 94% latihannya aerobik, dan sekitar 90% dari porsi itu berintensitas rendah. Pola volume dan spesifisitasnya mengikuti model periodisasi tradisional, dengan penurunan volume 32 ± 15% dari periode persiapan ke fase puncak [3].

Temuan lain dari studi yang sama lebih menarik. Para atlet tidak mengikuti anjuran taper yang berasal dari studi eksperimen jangka pendek. Hanya 3 dari 11 atlet mengambil satu hari istirahat penuh dalam lima hari terakhir sebelum performa terbaik mereka [3]. Studi ini deskriptif dan hanya melibatkan 11 orang, jadi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa penyimpangan itu membantu. Yang bisa disimpulkan adalah bahwa praktik atlet elite tidak selalu mengikuti rumus taper dari laboratorium.

Belum ada satu model yang unggul

Untuk cabang daya tahan, tinjauan sistematis pada pelari jarak menengah dan jauh menemukan pola yang sama di banyak atlet elite: pembagian hari berat dan hari ringan, dengan distribusi intensitas piramidal di fase persiapan yang bergeser ke polarisasi di fase kompetisi [4]. Temuan ini mencatat kebiasaan atlet elite. Tinjauan itu tidak menguji apakah pola tersebut yang terbaik.

Bukti perbandingan antarmodel jauh lebih tipis. Tinjauan pada pendayung elite (9 studi, 82 atlet) tidak menemukan bukti bahwa satu distribusi intensitas atau satu model periodisasi memberi keunggulan bermakna [5]. Tinjauan pada 11 studi dengan 200 atlet menemukan bahwa periodisasi terbalik, yang memulai musim dengan intensitas tinggi dan volume rendah, tidak lebih baik daripada periodisasi tradisional atau blok pada renang, lari, daya tahan otot, kekuatan maksimal, maupun VO2max. Kualitas studinya sedang, dengan rata-rata skor PEDro 4,9 dari 7 [6].

Kesimpulan jujurnya: bukti mendukung adanya struktur. Untuk model tertentu, bukti belum cukup. Artikel tentang perbandingan model linier, block, dan undulating membahas apa yang diketahui tentang masing-masing.

Taper sebelum kompetisi

Bagian periodisasi yang paling banyak diteliti adalah taper, yaitu pengurangan beban menjelang lomba. Meta-analisis Bosquet dan rekan atas 27 studi atlet kompetitif menemukan strategi paling efektif: taper selama 2 minggu, dengan volume latihan turun secara eksponensial 41 sampai 60%, sementara intensitas dan frekuensi tidak diubah [7].

Meta-analisis pada atlet daya tahan (14 studi) sejalan dengan temuan itu. Taper sampai 21 hari dengan pengurangan volume progresif 41 sampai 60% tanpa mengubah intensitas atau frekuensi memperbaiki performa time trial. Taper yang didahului periode overload menghasilkan perbaikan lebih besar daripada taper biasa [8]. Studi-studi ini berfokus pada cabang daya tahan, sehingga angkanya perlu disesuaikan untuk cabang lain.

Apa artinya untuk rencana Anda

Riset mendukung satu hal dengan cukup jelas: latihan yang terstruktur dan bervariasi menghasilkan kekuatan lebih baik daripada latihan yang datar. Riset tidak menunjuk model tunggal yang benar, dan atlet juara pun menyimpang dari rumus.

Konsekuensinya praktis. Rencana periodisasi adalah hipotesis tentang bagaimana atlet akan merespons. Kualitasnya ditentukan oleh seberapa cepat Anda menyadari bahwa hipotesis itu meleset dan menyesuaikan beban. Itu sebabnya pemantauan kesiapan atlet menjadi pasangan wajib dari rencana yang bagus.

Di PeakPlan, Makroplanner menampilkan fase, gelombang volume dan intensitas, serta minggu deload dalam satu tampilan musim. Panduannya ada di dokumentasi Makroplanner.

Sumber

  1. Williams, T. D., dkk. (2017). Comparison of Periodized and Non-Periodized Resistance Training on Maximal Strength: A Meta-Analysis. Sports Medicine. Tautan
  2. Moesgaard, L., dkk. (2022). Effects of Periodization on Strength and Muscle Hypertrophy in Volume-Equated Resistance Training Programs: A Systematic Review and Meta-analysis. Sports Medicine. Tautan
  3. Tønnessen, E., dkk. (2014). The Road to Gold: Training and Peaking Characteristics in the Year Prior to a Gold Medal Endurance Performance. PLoS ONE. Tautan
  4. Casado, A., dkk. (2022). Training Periodization, Methods, Intensity Distribution, and Volume in Highly Trained and Elite Distance Runners: A Systematic Review. International Journal of Sports Physiology and Performance. Tautan
  5. Zhong, Y., dkk. (2025). Training-Intensity Distribution, Volume, Periodization, and Performance in Elite Rowers: A Systematic Review. International Journal of Sports Physiology and Performance. Tautan
  6. González-Ravé, J. M., dkk. (2022). Reverse Periodization for Improving Sports Performance: A Systematic Review. Sports Medicine - Open. Tautan
  7. Bosquet, L., dkk. (2007). Effects of tapering on performance: a meta-analysis. Medicine and Science in Sports and Exercise. Tautan
  8. Wang, Z., dkk. (2023). Effects of tapering on performance in endurance athletes: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE. Tautan